Kamis, 12 Desember 2013

Makalah sensasi dan Persepsi


MAKALAH
SENSASI DAN PERSEPSI 

Apa itu sensasi dan persepsi? Apa perbedaan di antara keduanya? Bagaimanakah contoh dalam kehidupan yang menggambarkan sensasi dan persepsi?
A.    Sensasi
Sensasi pada dasarnya merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi (sensation)  berasal dari bahasa latin : sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek. Atau Sensasi berasal dari kata “sense” yang artinya alat pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya.
Secara lebih luas, sensasi dapat diartikan sebagai aspek kesadaran yang paling sederhana yang dihasilkan oleh indra kita sebagai hasil dari kejadian di lingkungan maupun kejadian dalam diri kita, seperti temperatur tinggi, warna hijau, rasa nikmatnya sebatang coklat. Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera.
Apa pun definisi sensasi, fungsi alat indra dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indra, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat indralah, manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya.  

B.    Pengertian Persepsi
Ekspresi mengenal orang lain merupakan studi awal tentang persepsi. Darwin mendorong munculnya permasalahan persepsi dengan pertanyaan, “Apa ciri-ciri keputusan yang baik tentang orang lain?”[1]
Secara etimologis, persepsi atau dalam bahasa inggris perception berasal dari bahasa Latin perception: dari percipere, yang artinya menerima atau mengambil.
Persepsi dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu; sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana cara seseorang memandang atau mengartikan sesuatu (Leavitt, 1978). Menurut Yusuf (1991:108) menyebut persepsi sebagai “pemaknaan hasil pengamatan”. Bagi Atkinson, persepsi adalah proses saat kita mengorganisasikan dan menafsirkan pola stimulus dalam lingkungan.[2]
Definisi lainpun menyebutkan, bahwa persepsi adalah membedakan, mengelompokkan, dan memfokuskan perhatian terhadap suatu objek rangsang. Dalam proses pengelompokkan dan membedakan ini persepsi melibatkan proses interpretasi (penafsiran) berdasarkan pengalaman terhadap suatu objek.[3]
Pareek memberikan definisi yang lebih luas, yaitu persepsi dapat didefinisikan sebagai proses menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, mengartikan, menguji, dan memberikan reaksi kepada rangsangan pencaindra atau data.
·       Ciri-Ciri Umum Persepsi
Pengindraan terjadi dalam suatu konteks tertentu, konteks ini disebut sebagai dunia persepsi. Agar dihasilkan suatu pengindraan yang bermakna, ada ciri-ciri umum tertentu dalam dunia persepsi:
1.   Modalitas: rangsang-rangsang yang yang diterima harus sesuai dengan modalitas tiap-tiap indra, yaitu sifat sensoris dasar dan masing-masing indra
Contoh : cahaya untuk penglihatan, bau untuk penciuman, bunyi untuk pendengaran, permukaan bagi peraba dan sebagainya.
2.   Dimensi ruang: dunia persepsi mempunyai sifat ruang (dimensi ruang), kita dapat mengatakan atas bawah, tinggi rendah, luas sempit, latar depan latar belakang, dan lain-lain.
3.   Dimensi waktu: dunia persepsi mempunyai dimensi waktu seperti; cepat lambat, tua muda, dan lain-lain.

·       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi persepsi diantaranya : Di samping faktor-faktor teknis seperti kejelasan stimulus [mis. suara yang jernih, gambar yang jelas], kekayaan sumber stimulus [mis. media multi-channel seperti audio-visual], Persepsi juga dipengaruhi bagaimana informasi / pesan / stimulus dipersepsikan.

1) Faktor Ekspektansi
Faktor ini adalah factor yang sangat dominan dari si penerima informasi sendiri. Ekspektansi ini memberikan oleh faktor-faktor psikologis. Faktor psikologis ini bahkan terkadang lebih menentukan  kerangka berpikir atau perceptual set atau mental set tertentu yang menyiapkan seseorang untuk mempersepsi dengan cara tertentu. Mental set ini dipengaruhi oleh beberapa hal.

2) Ketersediaan informasi sebelumnya
Ketiadaan informasi ketika seseorang menerima stimulus yang baru bagi dirinya akan menyebabkan kekacauan dalam mempersepsi. Oleh karena itu, dalam bidang pendidikan misalnya, ada materi pelajaran yang harus terlebih dahulu disampaikan sebelum materi tertentu. Seseorang yang datang di tengah-tengah diskusi, mungkin akan menangkap hal yang tidak tepat, lebih karena ia tidak memiliki informasi yang sama dengan peserta diskusi lainnya. Informasi juga dapat menjadi cues untuk mempersepsikan sesuatu.

3) Kebutuhan
Seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium bau masakan ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.
4) Pengalaman masa lalu
Sebagai hasil dari proses belajar, pengalaman akan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan sesuatu. Contohnya seperti pengalaman yang menyakitkan ditipu oleh mantan pacar, akan mengarahkan seseorang untuk mempersepsikan orang lain yang mendekatinya dengan kecurigaan tertentu. Contoh lain yang lebih ekstrim, ada orang yang tidak bisa melihat warna merah [dia melihatnya sebagai warna gelap, entah hitam atau abu-abu tua] karena pernah menyaksikan pembunuhan. Di sisi lain, ketika seseorang memiliki pengalaman yang baik dengan bos, dia akan cenderung mempersepsikan bosnya itu sebagai orang baik, walaupun semua anak buahnya yang lain tidak senang dengan si bos.

C. Sensasi dan persepsi
Sensasi sebagai alat penerima sejumlah rangsang yang akan diteruskan ke otak. Sedangkan persepsi merupakan fungsi yang dimulai dari proses sensasi, tetapi diteruskan dengan proses mengelompokkan, mengartikan, dan mengaitkan beberapa rangsang sekaligus.[4]
Dengan begitu, proses persepsi pun lebih rumit daripada proses sensasi, karena proses ini melibatkan pemahaman dan penginterpretasian sekaligus.
Dalam ungkapan lain disebutkan, “Sensasi ialah penerimaan stimulus lewat alat indra, sedangkan persepsi adalah menafisrkan stimulus yang telah ada di dalam otak”.
Untuk membedakan yang dimaksud sensasi dan persepsi secara lebih jelas, kita bisa membandingkatn potret sebuah pemandangan dengan lukisan pemandangan. Potret itu berupa pemandangan sebagaimana yang diterima alat indra, sedangkan lukisan pemandangan bergantung pada interpretasinya pelukis. Dengan perkataan lain, mata “menerima”, sedangkan pikiran “memersepsi”.[5]

D.     Pengalaman Saya Mengenai Sensasi dan Persepsi
Saya akan memberikan contoh mengenai sensasi dan persepsi berdasarkan pengalaman pribadi saya.
  1. Semasa SMP dulu, saya pernah berkemah di Salatiga, tepatnya di Tuntang. Adapun sensasi yang saya rasakan adalah saya melihat perbukitan, pepohonan yang rimbun, merasakan hawa dingin, menghirup udara segar dan mendengar kicauan burung. Semua sensasi tersebut berdasarkan alat indera. Adapun persepsi yang saya rasakan adalah, ketika saya melihat pemandangan yang indah disana, saya merasa tenang dan fresh. Keindahan alam dan pesonanya mampu merangsang otak untuk berfikir lebih jernih. Selain itu saya juga seperti mendapat semangat dan ide-ide baru.
  2. Ketika kita melihat sebuah lukisan abstrak, maka mata akan menangkap sensasi penglihatan berupa garis, titik, warna dan pola tertentu. Dimana setelah itu, otak akan menerjemahkan, atau dengan kata lain memersepsikannya. Dimana persepsi setiap orang tentu berbeda-beda pula terhadap lukisan abstrak tersebut.

E. Daftar Pustaka
[1] Ibid, hal. 445.
[2] Ibid, hal. 446.
[3] Rahman Shaleh, Psikologi, Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, hal.110.
[4] Abdul Rahman Shaleh, Psikologi, Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Kencana, Jakarta, 2008, hal.98
[5] Alex Sobur, Psikologi Umum, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2003, hal. 472.
http://www.google.com