Jumat, 15 Februari 2013

Rahasia Hati


Rahasia Hati
karya : Reksita Galuh W

                                                (part 1 )

Sebait puisi yang terlantun bersama ribuan melodi nada dealova once mekel mungkin masih tidak cukup menguntai rasa hati yang entah apa dan bagaimana rasanya ini. Cinta? Ya, hanya satu sebab itu yang membuat segala kegundahan kini terjadi dalam benak gadis kecil sepertiku. Kecil? Ah tidak!! kurasa aku bukan lagi gadis kecil lugu yang manis seperti kata mereka dahulu. Bukankah saat ini aku sudah bisa mencercap apa yang mereka sebut dengan jatuh cinta, aku bahkan sudah mengerti bagaimana rasa sakit yang menjamah ketika satu rasa beribu makna itu tak mampu terungkapkan.
            “hai ta, bengong aja. “ goda clarissa yang tiba-tiba sudah ada dihadapanku.
            “siapa sih yang bengong.” Balasku dengan nada setengah meninggi.
            “kalau bukan bengong apa dong namanya? Terlalu fokus sama kerjaan??”
            “entahlah…” elakku , kemudian meninggalkan clarissa yang menatapku dengan wajah menyelidik.

Di koridor kantor kakiku terhenti. Ya! Sosok itu kini ada di hadapan mataku, tersenyum, namun bukan untukku. Menyakitkan bukan?
            :: jatuh? Ya, memang sakit rasanya. Apalagi jatuh untukmu, namun sama sekali kamu tidak mengetahui.::
Today : 09.56 am via Blackberry

Aku mencoba memalingkan degup jantungku dari tatapannya yang masih bukan untukku. Menyibukkan diri dengan BB yang sebenarnya tidak satupun yang bisa aku sibukkan darinya.
            Comment:
            Cloud Me: Hati-hati dong.
            10.04

Aku bergeming. Nama itu yang selalu saja hadir dalam setiap kata dalam curahan hatiku melalui media social. Entahlah siapa dia, yang jelas aku saat ini berharap pangeran beku lah yang mengomentari kata-kataku. Tapi itu pasti hanya mimpi! Huh..

            “darimana aja sih ta? Bos nyariin tuh.” Clarissa bersungut.
Aku bergeming dengan kata-kata clarissa. Yang ada di otakku hanyalah satu nama, satu kata, dan satu harapan. Ya! Samuel Hanggara Risky, dia yang saat ini selalu menganggu konsentrasi dan memporakporandakan pekerjaanku.
Sam adalah rekan sekantorku, bisa dibilang dia adalah senior untukku, karena aku baru dua bulan bergabung bersama teamnya di kantor yang saat ini aku tempati. Cuek, apa adanya dan misterius, mungkin itu hal yang akhirnya membuat jantungku berdegup begitu hebat saat dia ada didekatku. Cintakah namanya? Entahlah.
            “siang bu. Mencari saya?” tanyaku ketika sudah berada di ruangan bu welly, atasanku.
            “ iya. Ada yang ingin saya bicarakan denganmu.”
            “ada apa ya bu? Apakah ada kesalahan yang tanpa saya sadari sudah saya lakukan?” pertanyaan itu konstan muincul dari bibirku saat mendengar bahwa ada yang ingin bu welly bicarakan denganku. Karena itu pastilah san gat penting.
            “oo tidak. Justru saya sangat senang dengan kinerja kamu. Oleh karena itu saya harap kamu bersedia saya pindah tugaskan ke cabang baru sebagai pemegang administrasi utama.”
            “saya bu? Ibu yakin?” tanyaku meyakinkan.
            “ tentu. Saya sangat percaya dengan kamu. Dan saya sangat puas melihat kinerja kamu selama ini. Meskipun kamu merupakan karyawan baru tetapi dedikasi kamu patut diberi acungan jempol.”
            Aku tidak menjawab. Tanganku dingin, jantungku berdegup kencang. Antara rasa gugup, senang dan tidak percaya.
            “ disana nanti saya akan membentuk team baru. Sementara ini akan saya ambilkan kamu sebagai administrasi umum dan Sam sebagai penanggung jawab.” Lanjnut bu welly.
Aku masih diam. Tapi kali ini bukan karena rasa yang sama. Kali ini aku benar-benar tercengan. Nama itu masih tetap akan menghantui hari-hariku. Bahkan mungkin akan lebih banyak rasa sakit yang akan aku rasakan nantinya.
            Setengan jam berlalu. Percakapanku bersama bu welly telah usai dengan persetujuanku untuk bersedia ditempatkan di cabang baru.
            :: ternyata Tuhan tidak serta merta membiarkanku lepas dari kejaran rautmu yang menghujamku.::
Today : 14.45 via web

            Belum sempat halaman web kututup, tanpa sengaja aku membaca sebuah tautan yang menyangkut tentangku.
            :: Narista Anoora Faradisya , kau bagai lukisan yang hanya mampu kupandangi.::
Today : 13.56 via Tweetdeck

            :: hanya ingin membiarkan rasa ini ::
Today : 19.40
            Comment :
Cloud Me : kenapa hanya dibiarkan?
Narista Anoora : karena rasa ini terlalu mustahil J
Cloud Me : bukankah tidak ada yang mustahil? J
                        Rasa apakah itu sebenarnya? Cintakah??
Narista Anoora : begitulah 8)
Cloud Me : ungkapkan
Narista Anoora : hmmmppp.. itu bunuh diri namanya.

Aku menutup laman web yang lama kelamaan membuatku bosan. Namun kurasa ada yang menggelitik. Kucoba lagi menuliskan sesuatu disana.

            :: asa mungkin ada. Berharap mungkin biasa. Tapi mimpiku terlalu sakit untuk menjadi nyata ::
Tidak ada respon. Kuberanikan diri membuka profil milik Cloud Me si misterius.
            :: dia .. selalu kulihat senyum dibalik computer 12 dinding kantorku ::
Comment :
Gavara Antana : wah masbrow, sejak kapan lah dirimu itu menjadi galau seperti ini?
Cloud Me : sejak kau tendang aku dari koridor 71
Gavara Antana : ouuuuu sakit… :D
Cloud Me : liat senyumnya juga sembuh :P
Clarissa Mirabella Imout : ckckckckckck.. kuharap ketahuan. ;)
Cloud Me : caca… ssssstttt baca PM .
Narista Anoora : *thinking*


            Otakku berputar. Berfikir keras. Lantunan rahasia milik vania larissa semakin menambah desir darah yang menderas melewati nadiku. Semakin kencang dan entah mungkin tidak berbatas.
            :: saranghamnida ::
Today : 22.35 via web

Home *
Narista Anoora
:: saranghamnida ::

Wuindahnya
:: besok @ cabang baru J cihuyyyy
8comments


Gavara Antana
Besok temen plus taksirannya lengser dari 71.
Senang? Sedih?
Gua dukung loe dah. Haha
21comments

Clarissa Mirabella Imout
Haduh..
Nyeplos deh.
Ember!!!


Cloud Me
:::: I know, you think iam a luzer:::::

                                                *   *  *

            Pagi yang indah, ya ! aku berharap senyumku pagi ini pun kan seindah mentari yang mengiringiku pagi ini. Tapi entahlah, kurasa hati yang mulai tak menentu ini seakan begitu sulit untuk kuajak kompromi.
            “ hai ta, gimana disini? Lebih enak kan? Daripada di tempat lama.”
            “ ya lumayan sih mba. Setidaknya disini aku bias kembali belajar mulai dari awal lagi. Aku berharap dengan begitu aku bias memperbaiki pengetahuanku.” Sahutku sekenanya.
Mba via hanya tersenyum. Alvianianingrum, senior cantik yang berhati lembut dan baik ini lah yang senantiasa menjadi guru bagiku. Usianya memang hanya berjarak satu tahun denganku, namujn cara berfikirnya jauh jika disbanding dengan bocah ingusan sepertiku ini. Berbeda dengan mba via beda pula mba Hena, ya! Henandiar Ayu juga salah satu senior yang ditugaskan bersama dengan team baruku. Sikap dan sifatnya berbanding terbalik jika disbanding dengan mba via, ya mungkin memang manusia itu selalu diciptakan berbeda-beda.
“ oo jadi semua ini ulah Hena? Bagus. Itu artinya dia memang secara terang-terangan menentangku sebagai penanggungjawab dalam team ini.” Sam bersungut, matanya menatap tajam kearahku.
Seketika kepalaku serasa ditimpa batu yang sangat besar dan berat sehingga tidak se”cm” pun aku bias mengangkat wajahku dan menatap kearah Sam.
“ apa maunya dia? Apa mau jadi kacang yang lupa kulitnya?” lanjut Sam dengan nada yang sedikit meninggi.
“ sudah mas. Mungkin mba Hena ngga bermaksud begitu. “ sahutku lirih seperti berbicara pada diriku sendiri.
“ ya terserah dia saja lah. Yang jelas aku jadi tau siapa dia yang sebenarnya sekarang ini.”
“ iya mas. Tapi jangan sampai mas jadi jauh dengan mba Hena ya. Nanti bias-bisa aku dikira jadi provokator. Dikira aku tukang ngadu mas.” Aku memberanikan diri berbicara panjang lebar didepan sam.
“ tentu. Kamu tidak perlu takut.” Sam tersenyum, senyum yang menusuk relung ruang hampa dalam batinku.
Aku hanya bias terdiam sambil berpura-pura sibuk menulis dalam buku laporanku.
“ yasudah, aku tinggal dulu ya. “
Tanpa menunggu jawabanku Sam berlalu. Menjauh dan semakin tak terlihat oleh kedua matakku.

Narista Anoora
:: misterius ::
Today : 16.55 via Blackberry

            Tepat pukul 17.00, aku segera memberesi ruang kerja dan tugas-tugasku. Anganku sudah melayang ke bantal dan kasur empuk yang sudah melambai-lambai memanggil ragaku yang letih.

.ada yang mau mba ceritakan ke kamu. Ke taman sekarang ya.
From : mba via

Cerita apa mba?
To : mba via
Nanti juga kamu tahu. Ada hubungannya sama pertanyaanmu tempo hari.
From : mba via

Ok……..
Sending..
To : mba via


Taman kantor 17.10
            Dughhhhhh!!!!! Sakit rasanya mendengar cerita mba via. Hati dan perasaanku terasa bagai disayat-sayat sembilu berkarat. Air mata mulai diproduksi di pelupuk mataku, namun beruntung masih bias kubendung dengan tembok senyum yang npura-pura kubangun kokoh.
“ ya begitulah ta. Jadi mba dulu memang sempat dekat bdengan Sam. Sampai akhirnya semua kejadian itu membuat sam menjauh dan membenci mba seperti sekarang ini. “
“ mungkin Sam cemburu kali mba.”
“ cemburu? “
“ iya mba ,  pasti sebenarnya mas Sam itu suka sama mba. Tapi berhubung mba balikan sama mas Adhit jadi mas Sam menjauh dari mba. Tapi ya itu menurut aku sih.”
Mba via tidak menjawab. Mtanya menerawang ketempat antah berantah yang tak Nampak disana. Aku ikut terdiam. Fikirku melayang akan persaaan yang sudah bias kutebak bertepuk sebelah tangan ini. Aku menyukai Sam, sementara besar kemungkinan Sam maenaruh hati pada mba via. Huhhhh!!!

Narista Anoora
:: pupuslah sudah tiada harap.::
Today : 19.56 via web

Dua menit kemudian……

Narista Anoora
:: pupuslah sudah tiada harap ::
Comment:
Gavara Antana :
Apanya neng yang pupus?

Narista Anoora:
Daun noh bang.. J 

Clarissa ganti nama Saja :
Yang sabr bu……

Narista Anoora:
Oo sudah pasti.. J 

Gavara Antana :
Hihi…
Emangnya musim semi ya neng sekarang???  ;)

Narista Anoora :
Musiman aja kali ya bang…
Hohoho 8)

            Aku menmutup laman web yang sudah besan terus menerus aku pelototi. Mataku melengket berat dan angan-angan mimpio indah sudah senantiasa bergelayut mengelilingi alam sadarku.
“ huaaahhhhhhhh. Entahlah Sam. Aku cape hari ini.”

*** *** ***


                        Pagi begitu membuatku berantakan hari ini. Terlambat, mba via marah dan mba Hena lebih dari marah.Huhhhh
            “ gimana sih kamu ta? Udah berkali kali aku sms kamu ko ngga ada balasan?!”
            “maaf mba via. Aku ngga tahu kalau ternyata mba sms aku. Aku kesiangan mba.”
            “ hish!! Padahal aku udah berkali kali juga telepon ke kamu. Tapi ngga kamu angkat. Males banget sih jadi anak. Kamu fikir kita itu ngga bosen apa nunggu disini kelamaan?!”
Aku terdiam. Sakit rasanya mendengar kata-kata mba Hena. Tapi aku coba bersikap sewajarnya saja. Aku hanya berfikir, apa saat mba Hena berbicara seperti itu dia tidak membayangkan jika seandainya kata-kata itu diucapkan untuk dia. Sakit bukan rasanya?
Selama seharian aku sibuk mengurusi pekerjaanku. Sama sekali aku tidak mempedulikan mba via ataupun mba Hena. Bukan saja karena aku masih sangat merasa bersalah, tetapi rasa sakit yang tadi aku dapatkan belum benar-benar bias aku pulihkan.
:: teman ya ?::
Today : 12.55 via Blackberry

Ternyata bukan saja aku yang lebih banyak diam hari ini. Sam juga terlihat acuh di depan mba via dan mba Hena. Sangat acuh bahkan. Setiap kali ada yang Sam tanyakan padaku, suaranya terdengar sangat lirih. Sampai-sampai aku harus kembali mengulang bertanya ke Sam.

Ruang laporan 16.54
“Sudah makan belum ta? “
Aku hanya menoleh sedikit. Dengan raut sedikit manja aku segera menjawab.
“ belum. Sebentar lagi mungkin mas. Toh nanti juga kan aku lembur.”
“aku tinggal dulu ya.”
Aku memandangi punggung Sam yang mulai menghilang dari hadapanku. Bingung, bertanya-tanya. Ya! Belum pernah Sam bertanya tentang hal seperti itu padaku.

Kembali bersibuk dengan keyboard dan buku laporan. Bersibuk dengan bejibun rupiah dan 00000 yang begitu banyak dihadapan mata membuatku lupa waktu.
“ ini ada makanan buat kamu.” Sam meletakan sebungkus nasi tepat disamping buku laporanku.
“ buat aku? Makasi “ aku tersenyum yang segaja kububuhi gula, agar terlihat manis. Hehe
Sam tidak menyahut. Dia kembali melangkah pergi meninggalkan aku sendiri di ruangan saksi perasaan ku ini.
            :: eh dibeliin maem. Makasi J::
Today :19.07 via Blackberry


Tokoh Tanpa Dialog

Tak bisa ungkap dengan kata apapun

Ini memang sangat membosankan
Ini begitu melelahkan
Bahkan, ini sangat menjengkelkan
Tubuh seakan beku dalam bongkahan es
Membeku tidak tahu kapan akan mencair
Yaa… itu benar sobat
Itu semua seperti sorot lampu panggung tanpa penonton
Menerangi tubuh di dalam kegelapan
Terdiam bisu tanpa senyum dan air mata

Ini sangat menyedihkan..
Namun.. ingatlah sobat..
Kau tidak sendiri
Kau tidak berdiri sendiri di kegelapan itu
Teteskanlah air matamu jika hatimu merasa terisak
Berteriaklah sepuasmu jika hatimu memanas
Karena itu lebih baik ku lihat
Dari pada kau terdiam kaku di bawah sorot lampu itu
Bagai seorang tokoh tanpa dialog

Sabtu, 02 Februari 2013

friendship

terimakasih
telah membuatku tersenyum dan tertawa
telah membuatku ceria dan bahagia
mengobarkan kembali semangatku
memberikan energi kuantum atas kreatifitasku
sahabat
engakau inspirasi bagiku
mengingatkan ditengah alpaku
menjaga ditengah lalaiku
mendo'akanku meski aku tak pernah tau